Duri-Duri Di Sepanjang Perjalanan

Category:


Perjalanan kehidupan manusia terlalu unik dan indah. Kelihatan begitu sukar untuk di mengertikan, namun tidaklah terlalu sukar andai saja kita memahami, menghayati justeru menyedari dengan penuh rasa kagum dan merendah diri, kerana hakikatnya kita adalah hamba. Ya, di sebalik kelebihan yang dikurniakan Allah, kita gunakan untuk membuktikan pengabdian diri ke tahap yang mutlak kepada-Nya. Kekurangan diri menjadikan kita sentiasa mengharapkan rahmat dari-Nya, bukankah pengharapan ( ar-raja' ) itu sifat seorang hamba yang sentiasa meletakkan pergantungan diri pada Tuhannya.

Mari sejenak kita menganalisis perjalanan kehidupan kita di alam dunia. Alam yang penuh dengan duri-duri yang melingkari perjalanan kita. Di sanalah, terkadangnya kita gembira, terkadang kita berduka. Terkadang kita tersenyum, terkadang kita menangis...terkadang perjalanan ini terasa terlalu lapang, namun terkadang rasanya terlalu sempit. Subahanallah...mengapa begitu ya..? Itulah hakikat ujian dari Tuhan kepada hamba-Nya. Semua itu merupakan ujian yang sepatutnya di lalui dengan penuh kesedaran. Sedar bahwa ianya ketentuan dari Tuhan, sama ada baik atau buruk.

Ujian itu sayogianya dilihat dari sudut positif, jangan sekali-kali menilai dari sudut negatif. Mengapa tidak kita tanamkan pada diri kita bahawa ujian itu adalah guru yang paling hampir dengan kita. Tugas seorang guru adalah sebagai seorang pendidik. Maka, ujian itu adalah didikan dari seorang guru yang berlaku hasil dari kehendak atau ketentuan guru Yang Maha Besar, iaitu Allah yang menjadikan kita justeru menghidupkan akan kita. Mengapa hari ini ketika kita di uji oleh Allah, kita mula mencari dan meletakkan kesalahan di bahu orang lain. Tetapi terlalu sukar untuk kita bermuhasabah diri, akhirnya...kita lupa sama sekali bahwa di sebalik ujian itu, hikmah tetap ada bahkan terlalu besar jika dibandingkan dengan ujian tersebut.

Nabi s.a.w bersabda : " Barangsiapa yang Allah kehendaki akan kebaikan, nescaya Allah akan timpakan musibah keatasnya ".

Bunyinya seperti aneh yaa? Mengapa perlu ditimpakan musibah andai Allah inginkan kebaikan ke atas seorang hamba-Nya. Jawapannya, ia berkisar kepada didikan dari Allah. Didikan tentang sabar dan redha. Bukankah Allah menjanjikan pahala yang tidak terkira banyaknya dan Allah sentiasa bersama-sama dengan orang-orang yang sabar, namun tidak bagi orang yang berputus asa. Redha dengan ketentuan Allah, perlu di dahului dengan berbaik sangka dengan-Nya. Ingatlah, Allah di sisi hamba-Nya mengikut prasangka seorang hamba terhadap-Nya. Ya, andai saja kita sabar dan redha, Allah pasti tidak akan mensia-siakannya kerana sabar dan redha itu lahir dari keyakinan diri yang tinggi kepada Tuhan-Nya. Keyakinan itulah yang Allah intai atau tlik pada hati tiap-tiap dari hamba-Nya.

Firman Allah Taa'la ; " wa maa bikum min ni'mati faminnallah "
Maksudnya : " Dan segala nikmat yang ada pada kamu ( adalah datangnya ) daripada Allah "

Di saat kita sering dilimpahi kegembiraan dan kesenangan, kita lupa untuk bersyukur. Terkadang orang soleh pun mula menjauhi Tuhannya di saat dilimpahi dan dipenuhi keinginan hidupnya. Jangan begitu, ia hanya menunjukkan keegoan kita di hadapan Allah. Keegoan itu adalah sifat yang dicetuskan oleh Iblis la'natullah.

Nabi s.a.w bersembahyang malam sehingga bengkak kakinya, kerna lamanya Nabi qiyam, ruku' dan sujud. Lalu ketika di tanya oleh Siti A'isyah r.a, baginda menjawab : " Apakah tidak selayaknya, aku menjadi hamba yang paling bersyukur ".

Seorang Arab Badwi yang mengerjakan tawaf, hanya berdoa dengan doa yang amat pendek sehingga menimbulkan kehairanan yang teramat sangat bagi A'mirul Mu'miniin Saidina Umar Al-Khattab r.hu.

Doa Arab Badwi tersebut :" Allahumma jaa'ni minal qaliil "
Maksudnya : " Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku dari kalangan orang yang sedikit ".

Sekali lagi bunyinya seperti aneh ya?

Jawapannya, tidak dan sekali kali tidak. Kerna Arab Badwi ini telah pun melalui jalan yang lurus lagi yang di redhai Tuhannya. Jalan yang telah lama Tuhan tunjukkan, iaitu melalui Al-Quran dan Allah utuskan seorang nabi dan rasul untuk memberi petunjuk bagaimana cara untuk melalui jalan tersebut. Itulah jalan sunnah, seribu satu rahsaia yang tersurat dan tersirat. Itulah sebaik-baik cara untuk melalui jalan yang dilingkari pelbagai halangan yang terkadang perjalanan itu rasanya terlalu lapang, terkadang rasanya terlalu sempit. Namun, yakinlah bahawa rahmat Allah jauh mengatasi murka Allah, andai saja kita jangan merasa aman dengan kemurkaan dari-Nya.

Firman Allah Taa'la ; " wa qalii lummin i'baadi yasy syakuur "
Maksudnya : " Dan sedikit sekali dari kalangan hamba-Ku yang bersyukur ".

"Allahumma jaa'lna minal qaliil...ya Allah, jadikanlah kami dari kalangan orang yang sedikit"
Amiin..yaa rabbal a'alamiin...